banner 728x250
Berita  

Pengalihan Debit Air Diduga Picu Banjir, 150 Hektare Lahan Pertanian dan 15 Rumah di Gambus Laut Terendam

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Batu Bara – Pengalihan debit air akibat pekerjaan rehabilitasi pintu air di kawasan Titi Putus diduga menyebabkan peningkatan debit air di Sungai Simpang Gambus. Dampaknya, ratusan hektare lahan pertanian serta puluhan rumah warga di Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, terendam banjir.

banner 325x300

Kepala Desa Gambus Laut, Zaharuddin, menjelaskan pada Kamis sore (6/8/2026) bahwa banjir telah merendam sekitar 150 hektare lahan pertanian yang ditanami cabai dan padi. Selain itu, sedikitnya 15 rumah di Dusun 7 dan Dusun 8 ikut terendam, bahkan air telah masuk ke dalam rumah warga.

“Air kiriman dari Sungai Simpang Gambus telah merendam sekitar 150 hektare lahan pertanian cabai dan padi. Selain itu, sekitar 15 rumah di Dusun 7 dan Dusun 8 juga sudah dimasuki air,” ujar Zaharuddin.

Salah seorang petani, Budi (35), warga Dusun 6 Desa Gambus Laut, mengaku lahan cabainya seluas 15 rante mulai terendam sejak Kamis siang. Untuk menyelamatkan tanaman yang hampir memasuki masa panen, ia terpaksa menggunakan mesin pompa guna membuang genangan air dari lahannya.

Menurut Budi, air sudah menggenangi guludan tanaman cabai sehingga berpotensi menyebabkan gagal panen. Padahal tanaman tersebut belum pernah dipanen dan tinggal menunggu waktu panen.

Hal serupa dialami Endri (42). Lahan cabai miliknya seluas 10 rante juga terendam sejak Kamis. Ia bersama keluarganya berupaya mengeluarkan air menggunakan mesin pompa agar tanaman cabainya tidak rusak.

Sementara itu, Legi (72) mengatakan air mulai memasuki areal pertanian sejak Selasa (4/8/2026), kemudian terus meningkat pada Rabu (5/8/2026), dan mencapai puncaknya pada Kamis (6/8/2026). Genangan merendam lahan pertanian di Dusun 7, TU 5, Dusun 6, serta kawasan TU 27 dan TU 28.

Warga lainnya, Masdi (60), menyebut air mulai masuk ke rumah milik Pak Sitip di Dusun 7 sejak Rabu (5/8/2026), dan hingga Kamis sore ketinggian air terus bertambah.

Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun ke lokasi untuk menangani banjir serta mengevaluasi dampak pengalihan debit air dari pekerjaan rehabilitasi pintu air. Mereka juga meminta adanya solusi cepat agar lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat tidak mengalami gagal panen akibat banjir.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *