banner 728x250
Berita  

HILIRISASI ALUMINIUM: INDONESIA TAK MAU LAGI JADI PENONTON, NILAI TAMBAH HARUS TINGGAL DI NEGERI SENDIRI

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

MEDAN – sumutmerdeka.id Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral yang besar. Namun, kekayaan tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal jika hanya berhenti sebagai bahan mentah.

Kini, arah industri nasional semakin didorong menuju hilirisasi, termasuk pada sektor aluminium. Bukan sekadar meningkatkan produksi, hilirisasi diarahkan untuk membangun rantai industri yang lebih panjang, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat daya saing, hingga membuka peluang tumbuhnya industri pengguna aluminium nasional.

banner 325x300

Dalam konteks tersebut, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) memiliki posisi strategis sebagai produsen aluminium primer nasional sekaligus bagian dari Grup MIND ID.

INALUM berada dalam mata rantai penting dari pengembangan industri bauksit, alumina hingga aluminium. Pengembangan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I dan II serta Smelter Aluminium II menjadi bagian dari agenda memperkuat ekosistem hilirisasi aluminium Indonesia.

Bukan Sekadar Bangun Pabrik

Hilirisasi tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas produksi baru. Ada pekerjaan besar di belakangnya, yakni memastikan perusahaan memiliki fundamental bisnis yang kuat, kemampuan investasi yang sehat, teknologi, infrastruktur, serta ekosistem industri yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

INALUM sendiri mencatat penguatan kredibilitas perusahaan. Pada 2026, Pefindo meningkatkan peringkat korporasi INALUM dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable. Penguatan tersebut kemudian diikuti perolehan peringkat kredit internasional BBB- dengan Outlook Stable dari S&P Global Ratings, yang menempatkan INALUM pada kategori investment grade.

Penguatan tersebut menjadi modal penting ketika perusahaan menjalankan agenda pertumbuhan melalui pengembangan SGAR 2 dan Smelter Aluminium 2.

Pesannya jelas: hilirisasi membutuhkan fondasi finansial, tata kelola, investasi yang disiplin, serta kemampuan menjaga keberlanjutan bisnis.

Dari Aluminium untuk Indonesia

Hilirisasi yang berhasil bukan hanya membuat kapasitas produksi meningkat. Lebih jauh, rantai nilai harus semakin panjang dan manfaat ekonominya semakin banyak dirasakan di dalam negeri.

Direktur Keuangan INALUM Ken Permana menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar mengolah sumber daya, melainkan membangun industri yang mampu menciptakan nilai tambah dari sumber daya Indonesia sendiri.

Investasi, menurutnya, tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas produksi, tetapi juga membangun teknologi, memperkuat ekosistem industri dan mendorong tumbuhnya industri pengguna aluminium di dalam negeri.

Sementara itu, Al Jufri, Ka-Grup Pengembangan Bisnis dan Strategi, menekankan pentingnya investasi dan kemitraan strategis dalam memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat efisiensi rantai pasok serta membuka peluang tumbuhnya industri pengguna aluminium nasional.

Artinya, aluminium tidak boleh berhenti sebagai komoditas.

Aluminium harus menjadi fondasi bagi tumbuhnya industri nasional yang kuat, mandiri dan mampu bersaing secara global.

Jika rantai industri dari bauksit, alumina, aluminium hingga produk turunannya semakin terintegrasi di Indonesia, maka nilai ekonomi yang selama ini berpotensi keluar negeri dapat semakin banyak berputar di dalam negeri.

Inilah wajah baru hilirisasi: bukan hanya soal apa yang ditambang, tetapi seberapa besar nilai yang berhasil diciptakan dari sumber daya Indonesia untuk Indonesia.

Dan pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi bukan hanya diukur dari berapa banyak aluminium yang diproduksi, tetapi dari berapa banyak industri tumbuh, lapangan usaha terbuka, ketergantungan impor berkurang dan nilai tambah yang tinggal di Tanah Air.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *