
BATU BARA | Sumutmerdeka.id – Bupati Batu Bara, secara resmi membuka Pesta Tapai Tahun 2026 yang digelar Jalan Mesjid Lama Desa Dahari Selebar Kec Talawi Batu Bara Senin (19/1/2026) Kegiatan tahunan yang mengusung tema “Mo Kito Ramaikan” ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai dari 17 Januari hingga 17 Februari 2026.
Malam pembukaan Pesta Tapai pada Sabtu malam 17 Januari 2026 sekira pukul 18.40 Wib, turut dihadiri Wakil Bupati Batu Bara Syafrizal, S.E., M.AP., Ketua TP PKK Batu Bara Ny. Henny Heridawaty Baharuddin, Ketua DPRD Kabupaten Batu Bara M. Safi’i, Ketua Pengadilan Negeri Kisaran, Anggota DPRD Sumatera Utara Yahdi Khoir, unsur Forkopimda, Staf Ahli TP PKK Kabupaten Batu Bara Ny. Leli Syafrizal, Plh. Sekretaris Daerah, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Sambutannya, Bupati Batu Bara Pesta Tapai bukan sekadar pesta rakyat, melainkan simbol warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa kedatukan sekitar tahun 1760-an.
Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menyambut bulan suci Ramadan sekaligus momen strategis untuk mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat.
“Pesta Tapai merupakan identitas budaya masyarakat Batu Bara yang harus terus kita jaga dan lestarikan.
Selain nilai budaya, kegiatan ini juga berdampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bentuk keseriusan dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, Bupati Batu Bara juga telah melakukan berbagai upaya promosi, di antaranya dengan memasang baliho Pesta Tapai di sejumlah titik strategis di Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, serta kabupaten/kota lainnya.
Langkah ini dilakukan untuk memperkenalkan Pesta Tapai sebagai agenda budaya unggulan Kabupaten Batu Bara.
“Demi kenyamanan pengunjung, kita harus bekerja sama untuk menyeragamkan tarif parkir agar tidak terlalu mahal, serta menyeragamkan harga lemang berdasarkan ukuran.
Pada akhir rangkaian kegiatan Pesta Tapai, secara langsung berkeliling meninjau seluruh pelaku UMKM yang berpartisipasi di lokasi acara. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat secara dekat aktivitas para pedagang sekaligus mendengarkan langsung kondisi dan perkembangan usaha masyarakat.
Dengan demikian, pengunjung merasa nyaman, aman, dan tidak dirugikan oleh praktik harga yang tidak wajar,” tegasnya . (Red)











